MATERI SOSIOLOGI KELAS XII SEMESTER 1
BAB
I
Mobilitas sosial
Setelah
mempelajari Bab ini diharapkan anda dapat:
1. Mendeskripsikan
pengertian mobilitas sosial
2. Mendeskripsikan
cara melakukan mobilitas sosial
3. Mendeskripsikan
faktor penghambat mobilitas sosial
4. Mendeskripsikan
bentuk-bentuk mobilitas sosial
5. Menganalisis
faktor yang mempengaruhi mobilitas sosial
6. Mendeskrisikan
saluran mobilitas sosial
7. Menguraikan
dampak mobilitas sosial
A. Pengertian
Mobilitas Sosial
Mobilitas sosial adalah perubahan, pergeseran, peningkatan,
ataupun penurunan status dan peran anggotanya. Misalnya, seorang pensiunan
pegawai rendahan salah satu departemen beralih pekerjaan menjadi seorang
pengusaha dan berhasil dengan gemilang. Contoh lain, seorang anak pengusaha
ingin mengikuti jejak ayahnya yang berhasil. Ia melakukan investasi di suatu
bidang yang berbeda dengan ayahnya. namun, ia gagal dan jatuh miskin. Proses
keberhasilan ataupun kegagalan setiap orang dalam melakukan gerak sosial
seperti inilah yang disebut mobilitas sosial (social mobility)
Menurut Paul B. Horton, mobilitas sosial adalah suatu gerak
perpindahan dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya atau gerak
pindah dari strata yang satu ke strata yang lainnya.
Sementara menurut Kimball Young dan Raymond W. Mack, mobilitas sosial adalah suatu gerak
dalam struktur sosial yaitu pola-pola tertentu yang
mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Struktur sosial mencakup
sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara
individu dengan kelompoknya.
Dalam dunia modern, banyak orang berupaya
melakukan mobilitas sosial. Mereka yakin bahwa hal tersebut akan membuat orang
menjadi lebih bahagia dan memungkinkan mereka melakukan jenis pekerjaan yang
peling cocok bagi diri mereka. Bila tingkat mobilitas sosial tinggi, meskipun
latar belakang sosial berbeda. Mereka tetap dapat merasa mempunyai hak yang
sama dalam mencapai kedudukan sosial yang lebih tinggi. Bila tingkat mobilitas
sosial rendah, tentu saja kebanyakan orang akan terkukung dalam status nenek
moyang mereka. Mereka hidup dalam kelas sosial tertutup.
Mobilitas sosial lebih mudah terjadi pada
masyarakat terbuka karena lebih memungkinkan untuk berpindah strata.
Sebaliknya, pada masyarakat yang sifatnya tertutup kemungkinan untuk pindah
strata lebih sulit. Contohnya, masyarakat feodal atau
pada masyarakat yang menganut sistem kasta. Pada masyarakat yang menganut sistem
kasta, bila seseorang lahir dari kasta yang paling rendah untuk selamanya ia
tetap berada pada kasta yang rendah. Dia tidak mungkin dapat pindah ke kasta
yang lebih tinggi, meskipun ia memiliki kemampuan atau keahlian. Karena yang
menjadi kriteria stratifikasi adalah keturunan. Dengan demikian, tidak terjadi
gerak sosial dari strata satu ke strata lain yang lebih tinggi.
B.
Cara untuk
melakukan mobilitas sosial
Secara umum, cara orang untuk dapat melakukan
mobilitas sosial ke atas adalah sebagai berikut :
1. Perubahan standar
hidup
Kenaikan penghasilan tidak menaikan status
secara otomatis, melainkan akan mereflesikan suatu standar hidup yang lebih
tinggi. Ini akan mempengaruhi peningkatan status.
Contoh: Seorang pegawai rendahan, karena
keberhasilan dan prestasinya diberikan kenaikan pangkat menjadi Menejer,
sehingga tingkat pendapatannya naik. Status sosialnya di masyarakat tidak dapat
dikatakan naik apabila ia tidak merubah standar hidupnya, misalnya jika dia
memutuskan untuk tetap hidup sederhana seperti ketika ia menjadi pegawai
rendahan.
2. Perkawinan
Untuk meningkatkan status sosial yang lebih
tinggi dapat dilakukan melalui perkawinan.
Contoh: Seseorang wanita yang berasal dari
keluarga sangat sederhana menikah dengan laki-laki dari keluarga kaya dan
terpandang di masyarakatnya. Perkawinan ini dapat menaikan status si wanita
tersebut.
3. Perubahan tempat
tinggal
Untuk meningkatkan status sosial, seseorang
dapat berpindah tempat tinggal dari tempat tinggal yang lama ke tempat tinggal
yang baru. Atau dengan cara merekonstruksi tempat tinggalnya yang lama menjadi
lebih megah, indah, dan mewah. Secara otomatis, seseorang yang memiliki tempat
tinggal mewah akan disebut sebagai orang kaya oleh masyarakat, hal ini
menunjukkan terjadinya gerak sosial ke atas.
4. Perubahan tingkah
laku
Untuk mendapatkan status sosial yang tinggi,
orang berusaha menaikkan status sosialnya dan mempraktekkan bentuk-bentuk
tingkah laku kelas yang lebih tinggi yang diaspirasikan sebagai kelasnya. Bukan
hanya tingkah laku, tetapi juga pakaian, ucapan, minat, dan sebagainya. Dia
merasa dituntut untuk mengkaitkan diri dengan kelas yang diinginkannya.
Contoh: agar penampilannya meyakinkan dan
dianggap sebagai orang dari golongan lapisan kelas atas, ia selalu mengenakan
pakaian yang bagus-bagus. Jika bertemu dengan kelompoknya, dia berbicara dengan
menyelipkan istilah-istilah asing.
5. Perubahan nama
Dalam suatu masyarakat, sebuah nama
diidentifikasikan pada posisi sosial tertentu. Gerak ke atas dapat dilaksanakan
dengan mengubah nama yang menunjukkan posisi sosial yang lebih tinggi.
Contoh: Di kalangan masyarakat feodal Jawa, seseorang yang memiliki status sebagai
orang kebanyakan mendapat sebutan "kang" di depan nama aslinya. Setelah
diangkat sebagai pengawas pamong praja sebutan dan namanya berubah sesau dengan
kedudukannya yang baru seperti "Raden"
C.
Faktor penghambat
mobilitas sosial
Ada beberapa faktor penting yang justru
menghambat mobilitas sosial. Faktor-faktor penghambat itu antara lain sebagai
berikut :
1.
Perbedaan kelas
rasial, seperti yang
terjadi di Afrika Selatan di masa
lalu, dimana ras berkulit putih berkuasa dan tidak memberi kesempatan kepada
mereka yang berkulit hitam untuk dapat duduk bersama-sama di pemerintahan
sebagai penguasa. Sistem ini disebut Apharteid dan dianggap berakhir ketika Nelson Mandela, seorang kulit hitam, terpilih menjadi presiden Afrika Selatan
2.
Agama, seperti yang terjadi di India yang
menggunakan sistem kasta.
3.
Diskriminasi
Kelas
Dalam sistem kelas terbuka dapat menghalangi mobilitas ke
atas. Hal ini terbukti dengan adanya pembatasan suatu organisasi tertentu
dengan berbagai syarat dan ketentuan, sehingga hanya sedikit orang yang mampu
mendapatkannya.
Contoh: jumlah anggota DPR yag dibatasi hanya 500 orang, sehingga
hanya 500 orang yang mendapat kesempatan untuk menaikan status sosialnya
menjadi anggota DPR.
4. Kemiskinan dapat membatasi kesempatan bagi seseorang
untuk berkembang dan mencapai suatu kelas sosial tertentu.
Contoh: "A" memutuskan untuk tidak
melanjutkan sekolahnya karena kedua orangtuanya tidak bisa membiayai, sehingga
ia tidak memiliki kesempatan untuk meningkatkan status sosialnya.
5. Perbedaan jenis kelamin dalam masyarakat juga berpengaruh terhadap
prestasi, kekuasaan, status sosial, dan
kesempatan-kesenmpatan untuk meningkatkan status sosialya.
D. Bentuk-bentuk Mobilitas Sosial
1. Mobilitas sosial horizontal
Mobilitas horizontal merupakan peralihan
individu atau obyek-obyek sosial lainnya dari suatu kelompok sosial ke kelompok
sosial lainnya yang sederajat. Tidak terjadi perubahan dalam derajat kedudukan
seseorang dalam mobilitas sosialnya.
Contoh: Pak Amir seorang warga negara Amerika Serikat, mengganti kewarganegaraannya dengan kewarganegaraan Indonesia, dalam hal ini mobilitas sosial Pak Amir
disebut dengan Mobilitas sosial horizontal karena gerak sosial yang dilakukan Pak Amir tidak merubah status sosialnya.
2. Mobilitas sosial vertikal
Mobilitas sosial vertikal adalah perpindahan
individu atau objek-objek sosial dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan
sosial lainnya yang tidak sederajat. Sesuai dengan arahnya, mobilitas sosial
vertikal dapat dibagi menjadi dua, mobilitas vertikal ke atas (social climbing)
dan mobilitas sosial vertikal ke bawah (social sinking).
a.
Mobilitas vertikal
ke atas (Social climbing)
Mobilitas vertikal ke atas atau social
climbing mempunyai dua bentuk yang utama
1.
Masuk ke dalam
kedudukan yang lebih tinggi. Masuknya individu-individu yang mempunyai kedudukan
rendah ke dalam kedudukan yang lebih tinggi, di mana kedudukan tersebut telah
ada sebelumnya.
Contoh: A adalah seorang guru sejarah di salah
satu SMA. Karena memenuhi persyaratan, ia
diangkat menjadi kepala sekolah.
Contoh: Pembentukan organisasi baru
memungkinkan seseorang untuk menjadi ketua dari organisasi baru tersebut,
sehingga status sosialnya naik.
b. Mobilitas vertikal ke bawah (Social sinking)
Mobilitas vertikal ke bawah mempunyai dua
bentuk utama.
Contoh: seorang prajurit dipecat karena
melakukan tidakan pelanggaran berat ketika melaksanakan tugasnya.
Contoh: Juventus terdegradasi ke seri B.
akibatnya, status sosial tim pun turun.
Mobilitas antargenerasi
Mobilitas antargenerasi secara umum berarti mobilitas dua generasi
atau lebih, misalnya generasi ayah-ibu, generasi anak, generasi cucu, dan
seterusnya. Mobilitas ini ditandai dengan perkembangan taraf hidup, baik naik
atau turun dalam suatu generasi. Penekanannya bukan pada perkembangan keturunan
itu sendiri, melainkan pada perpindahan status sosial suatu generasi ke
generasi lainnya.
Contoh: Pak Parjo adalah seorang tukang
becak. Ia hanya menamatkan pendidikannya hingga sekolah dasar, tetapi ia
berhasil mendidik anaknya menjadi seorang pengacara. Contoh ini menunjukkan
telah terjadi mobilitas vertikal antargenerasi.
Mobilitas intragenerasi
Mobilitas intragenerasi adalah mobilitas yang
terjadi di dalam satu kelompok generasi yang sama.
Contoh: Pak Darjo adalah seorang buruh. Ia
memiliki anak yang bernama Endra yang menjadi tukang becak. Kemudian istrinya
melahirkan anak ke-2 yang diberi nama Ricky yang awalnya menjadi tukang becak
juga. tetapi Ricky lebih beruntung sehingga ia bisa mengubah statusnya menjadi
seorang pengusaha sementara Endra tetap menjadi tukang becak. Perbedaan status
sosial antara Endra dengan adiknya di sebut Mobilitas Antargenerasi.
Gerak sosial geografis
Gerak sosial ini adalah perpindahan individu atau kelompok dari satu daerah ke daerah
lain seperti transmigrasi, urbanisasi, dan migrasi.
E.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Mobilitas Sosial
Mobilitas sosial
dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut.
1.
Perubahan
kondisi sosial
Struktur kasta dan kelas dapat berubah dengan sendirinya
karena adanya perubahan dari dalam dan dari luar masyarakat. Misalnya, kemajuan teknologi membuka kemungkinan timbulnya mobilitas ke
atas. Perubahan ideologi dapat menimbilkan stratifikasi baru
2.
Ekspansi
teritorial dan gerak
populasi
Ekspansi teritorial dan perpindahan
penduduk yang cepat membuktikan cirti fleksibilitas struktur stratifikasi dan
mobilitas sosial. Misalnya, perkembangan kota, transmigrasi, bertambah dan
berkurangnya penduduk.
3.
Komunikasi yang
bebas
Situasi-situasi yang membatasi komunikasi antarstrata yang beraneka ragam
memperkokoh garis pembatas di antara strata yang ada dalam pertukaran
pengetahuan dan pengalaman di antara mereka dan akan mengahalangi mobilitas
sosial. Sebaliknya, pendidikan dan komunikasi yang bebas sertea efektif akan
memudarkan semua batas garis dari strata sosial uang ada dan merangsang
mobilitas sekaligus menerobos rintangan yang menghadang.
4.
Pembagian kerja
Besarnya kemungkinan bagi terjadinya
mobilitas dipengaruhi oleh tingkat pembagian kerja yang ada. Jika tingkat
pembagian kerja tinggi dan sangat dispeliasisasikan, maka mobilitas akan
menjadi lemah dan menyulitkan orang bergerak dari satu strata ke strata yang
lain karena spesialisasi pekerjaan nmenuntut keterampilan khusus. Kondisi ini
memacu anggota masyarakatnya untuk lebih kuat berusaha agar dapat menempati
status tersebut.
F.
Saluran Mobilitas Sosial
Lembaga-lembaga keagamaan dapat mengangkat
status sosial seseorang, misalnya yang berjasa dalam perkembangan Agama seperti
ustad, pendeta, biksu dan lain lain.
3. Lembaga pendidikan
Lembaga-lembaga pendidikan pada umumnya
merupakan saluran yang konkret dari mobilitas vertikal ke atas, bahkan dianggap
sebagai social elevator (perangkat) yang bergerak dari kedudukan yang
rendah ke kedudukan yang lebih tinggi. Pendidikan memberikan kesempatan pada
setiap orang untuk mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi.
Contoh: Seorang anak dari keluarga miskin
mengenyam sekolah sampai jenjang yang tinggi. Setelah lulus
ia memiliki pengetahuan dagang dan menggunakan pengetahuannya itu untuk
berusaha, sehingga ia berhasil menjadi pedagang yang kaya, yang secara otomatis
telah meningkatkan status sosialnya.
4.
Organisasi politik
Seperti angkatan bersenjata, organisasi politik
memungkinkan anggotanya yang loyal dan berdedikasi tinggi untuk menempati
jabatan yang lebih tinggi, sehingga status sosialnya meningkat.
5. Organisasi ekonomi
Organisasi ekonomi (seperti perusahaan, koperasi, BUMN dan lain-lain) dapat
meningkatkan tingkat pendapatan seseorang. Semakin besar prestasinya, maka
semakin besar jabatannya. Karena jabatannya tinggi akibatnya pendapatannya
bertambah. Karena pendapatannya bertambah akibatnya kekayaannya bertambah. Dan
karena kekayaannya bertambah akibatnya status sosialnya di masyarakat
meningkat.
6.
Organisasi
keahlian
Orang yang memiliki keahlian dan menyumbangkan pengetahuan/keahliannya kepada
kelompok pasti statusnya akan dianggap lebih tinggi daripada anggota biasa lainnya.
7.
Perkawinan
Sebuah perkawinan dapat menaikkan status
seseorang. Seorang yang menikah dengan orang yang memiliki status terpandang
akan dihormati karena pengaruh pasangannya.
G. Dampak Mobilitas Sosial
Gejala naik turunnya status sosial tentu
memberikan konsekuensi-konsekuensi tertentu terhadap struktur sosial
masyarakat. Konsekuensi-konsekuensi itu kemudian mendatangkan berbagai reaksi.
Reaksi ini dapat berbentuk konflik. Ada berbagai macam konflik yang
bisa muncul dalam masyarakat sebagai akibat terjadinya mobilitas.
1.
Dampak
Negatif
a.
Konflik antarkelas
Dalam masyarakat, terdapat lapisan-lapisan sosial karena ukuran-ukuran seperti kekayaan,
kekuasaan, dan pendidikan. Kelompok dalam lapisan-lapisan tadi disebut kelas sosial. Apabila
terjadi perbedaan kepentingan antara kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat
dalam mobilitas sosial maka akan muncul konflik antarkelas.
Contoh: demonstrasi buruh yang menuntuk
kenaikan upah, menggambarkan konflik antara kelas buruh dengan pengusaha.
b.
Konflik antarkelompok
sosial
Di dalam masyatakat terdapat pula kelompok
sosial yang beraneka ragam. Di antaranya kelompok sosial berdasarkan ideologi, profesi, agama, suku, dan ras. Bila salah satu kelompok berusaha untuk menguasai
kelompok lain atau terjadi pemaksaan, maka timbul konflik.
Contoh: tawuran pelajar, perang antarkampung.
c.
Konflik antargenerasi
Konflik antar generasi terjadi antara
generasi tua yang mempertahankan nilai-nilai lama dan generasi mudah yang ingin
mengadakan perubahan.
Contoh: Pergaulan bebas yang saat ini
banyak dilakukan kaum muda di Indonesia sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut generasi tua.
d.
Penyesuaian
kembali
Setiap konflik pada dasarnya ingin menguasai atau
mengalahkan lawan. Bagi pihak-pihak yang berkonflik bila menyadari bahwa
konflik itu lebih banyak merugikan kelompoknya, maka akan timbul penyesuaian
kembali yang didasari oleh adanya rasa toleransi atau rasa penyesuaian kembali
yang didasari oleh adanya rasa toleransi atau rasa saling menghargai. Penyesuaian
semacam ini disebut Akomodasi.
2.
Dampak Positif
a.
Orang-orang akan berusaha untuk berprestasi atau berusaha untuk maju karena adanya
kesempatan untuk pindah strata. Kesempatan ini mendorong orang untuk mau
bersaing, dan bekerja keras agar dapat naik ke strata atas.
Contoh: Seorang anak miskin berusaha belajar
dengan giat agar mendapatkan kekayaan dimasa depan.
b.
Mobilitas sosial
akan lebih mempercepat tingkat perubahan sosial masyarakat ke arah yang
lebih baik.
Contoh: Indonesia yang sedang mengalami
perubahan dari masyarakat agraris ke masyarakat
industri. Perubahan ini
akan lebih cepat terjadi jika didukung oleh sumber daya yang memiliki kualitas.
Kondisi ini perlu didukung dengan peningkatan dalam bidang pendidikan.
BAB 2
PERUBAHAN SOSIAL
Setelah
mempelajari bab ini diharapkan anda dapat:
- Mendeskripsikan pengertian perubahan sosial
- Mendeskripsikan faktor penyebab perubahan sosial
- Mendeskripsikan faktor penghambat perubahan sosial
- Menganalisis perubahan sosial dalam masyarakat di lingkungan sekitar
A. Pengertian Perubahan Sosial
Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola
budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum
yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat.
Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat
dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Hirschman
mengatakan bahwa kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari
perubahan.
B. Faktor
Penyebab Perubahan Sosial
Perubahan sosial budaya
terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya:
1. Komunikasi;
2. cara dan pola pikir masyarakat;
3. faktor internal lain seperti
perubahan jumlah penduduk,
4. penemuan baru,
6. faktor eksternal seperti bencana
alam dan perubahan iklim,
7. peperangan,
8. pengaruh kebudayaan
masyarakat lain.
C. Faktor Penghambat Perubahan Sosial
Ada pula beberapa faktor yang
menghambat terjadinya perubahan, misalnya:
1. kurang intensifnya hubungan komunikasi dengan
masyarakat lain;
2. perkembangan IPTEK yang
lambat;
3. sifat masyarakat yang sangat tradisional;
4. ada kepentingan-kepentingan
yang tertanam dengan kuat dalam masyarakat;
5. prasangka negatif terhadap
hal-hal yang baru;
6. rasa takut jika terjadi
kegoyahan pada masyarakat bila terjadi perubahan;
7. hambatan ideologis;
8. pengaruh adat atau kebiasaanSemogaa bermanfaat :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar